banner 728x250

Renungan : Gotong Royong yang Mulai Pudar,

banner 120x600
banner 468x60

Renungan : Gotong Royong yang Mulai Pudar,

Oleh: Muhamad Sarman|Redaktur Suarakyat.com

Di tengah kehidupan bermasyarakat, terutama di lingkungan kecil tingkat RT yang jumlahnya hanya sekitar 40 sampai 50 kepala keluarga, seharusnya gotong royong dan silaturahmi menjadi napas utama. Namun, akhir-akhir ini pasca pilihan legislatif dan pilkada kita menyaksikan fenomena yang memprihatinkan: munculnya banyak kelompok-kelompok dengan bendera relawan, yang justru lebih sibuk memuja-muja tokoh tertentu dibanding menjaga persaudaraan dalam lingkup RT.

banner 325x300

Alih-alih menyatukan, keberadaan kelompok-kelompok ini kadang justru memecah. Akibatnya, silaturahmi hubungan antar warga kian rapuh, dan semangat gotong royong pun meredup, bahkan mulai hilang. Padahal, dalam Islam, ukhuwah dan persaudaraan adalah pondasi.

Baca juga :

PK Silvester Ditolak: Harapan Publik pada Ruang Hukum yang Jujur dan Adil

Rasulullah bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh; apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu indah ajaran ini: satu sakit, semua merasa. Tapi apa yang terjadi saat ini? Tontonan di medsos Banyak yang lebih sibuk menonjolkan kelompoknya sendiri, memuja tokoh tertentu, hingga berlebihan, bahkan menganggap kelompok lain sebagai saingan. Bukankah ini tanda bahwa rasa kebersamaan jiwa gotong royong yang mulai luntur?

Al-Qur’an pun sudah mengingatkan: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini adalah pesan jelas bahwa persatuan jauh lebih mulia daripada fanatisme terhadap tokoh tertentu atau kelompok tertentu.

Mari kita kembali merenung: Gotong royong bukan sekadar membantu membangun rumah tetangga atau membersihkan jalan kampung, melainkan juga menjaga hati agar tetap bersatu.

Jangan sampai perbedaan pilihan saat pileg atau pilihan presiden dan pilkada, menjadikan kita bercerai berai. Jangan karena berkelompok menjadi relawan terus membuat kita lupa bahwa kita ini satu keluarga besar dalam sebuah masyarakat kecil, yaitu ke RT an.

Renungan ini mengingatkan kita: jangan sampai persaudaraan yang diwariskan nenek moyang dengan budaya gotong royong terkikis oleh ego dan kepentingan sesaat. Mari perkuat silaturahmi, hilangkan sekat-sekat semu, dan kembali hidup rukun sebagaimana pesan agama kita.

Dengan majunya tehnologi informasi dimana kita setiap saat di suguhi tontonan debat, yang semestinya memberi pelajaran positif bagi penontonnya, tetapi pada kenyataannya kita hanya menonton orang orang yang katanya “Hebat” Tapi kenyataan hanya membela kelompoknya, dalam panggung debat mereka bertengkar hujat menghujat saling serang, padahal mereka sering mengatakan “Etika”.

Kita sebagai masyarakat kelas bawah hanya bisa mengelus dada, inilah wajah sejatinya kita, masih jauh dari arti kemerdekaan, merdeka yang bagaimana yang sebenarnya merdeka. Salam Nalar Akal Waras.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *