Negarawan dan Politikus: Antara Pengabdian dan Kekuasaan
Suarakyat.com – Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita sering mendengar berbagai statemen dari para tokoh publik. Kata-kata mereka bukan sekadar rangkaian kalimat.
Kalimat yang populer dan sering di ucapkan dengan lantang dan keras dengan tangan mengepal “NKRI Harga mati” Ada lagi yang baru baru ini kita lihat di medsos, “Saya akan berjuang mati-matian untuk partai”
Dan ada juga stitmen, “Saya rela mati demi bangsa dan negara” Ini lebih ke negarawanan, Inilah simbul atau cerminan dari cara berpikir dan orientasi dalam pengabdian.
Dari sanalah rakyat dapat menilai, apakah seorang tokoh lebih dekat pada watak negarawan, atau seorang tokoh hanya sekadar berperan sebagai politikus.
Namun bagi rakyat, penting untuk memahami perbedaan makna di balik orientasi tersebut, karena di sanalah letak kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya.
Negara berdiri bukan karena partai, tetapi karena rakyat. Partai adalah sarana dalam sistem demokrasi, sedangkan rakyat adalah pemilik kedaulatan.
Oleh karena itu, orientasi pengabdian seorang pemimpin akan sangat menentukan arah perjuangan dan kebijakan yang diambilnya.
Negarawan Berorientasi pada Bangsa dan Masa Depan
Negarawan adalah sosok yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Ia melihat kekuasaan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab, bukan sebagai tujuan akhir yang harus dipertahankan dengan segala cara.
Seorang negarawan berpikir jauh ke depan. Ia mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan terhadap generasi berikutnya.
Ia memahami bahwa jabatan bersifat sementara, tetapi bangsa akan terus ada melampaui masa kepemimpinannya.
Negarawan tidak selalu diukur dari kedudukannya, tetapi dari sikapnya. Ia mampu menahan diri, menjaga integritas, dan memprioritaskan kepentingan umum.
Ia tidak menjadikan rakyat sebagai alat, melainkan sebagai tujuan utama dari pengabdiannya.
Dalam sejarah bangsa mana pun, kemajuan selalu lahir dari pemimpin yang memiliki orientasi pengabdian, bukan sekadar orientasi kekuasaan.
Kepercayaan rakyat tumbuh ketika mereka melihat ketulusan, konsistensi, dan keberpihakan kepada kepentingan bersama.
Negarawan memahami bahwa kekuasaan hanyalah sarana untuk menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan stabilitas. Tanpa orientasi tersebut, kekuasaan kehilangan makna sejatinya.
Politikus dan Tantangan Orientasi Kekuasaan dalam Demokrasi
Di sisi lain, politikus adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem demokrasi. Politik adalah mekanisme untuk memilih pemimpin dan menjalankan pemerintahan. Tanpa politikus, sistem demokrasi tidak dapat berjalan.
Namun tantangan muncul ketika orientasi politik tidak lagi sejalan dengan kepentingan rakyat. Jika kekuasaan menjadi tujuan utama, maka risiko terjadinya jarak antara pemimpin dan rakyat akan semakin besar.
Politikus yang baik adalah mereka yang tetap menjadikan rakyat sebagai pusat pengabdian. Mereka memahami bahwa legitimasi kekuasaan berasal dari kepercayaan rakyat, bukan semata-mata dari jabatan atau organisasi.
Sebaliknya, ketika orientasi lebih terfokus pada mempertahankan kekuasaan, maka kepercayaan publik dapat melemah. Rakyat menjadi lebih kritis dan lebih peka terhadap setiap sikap dan keputusan yang diambil oleh para pemimpin.
Demokrasi yang sehat membutuhkan keseimbangan antara peran partai politik dan kepentingan rakyat. Partai harus menjadi sarana untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, bukan menjadi tujuan yang terpisah dari kepentingan masyarakat itu sendiri.
Pada akhirnya, perbedaan antara negarawan dan politikus tidak terletak pada jabatan, tetapi pada orientasi pengabdiannya. Negarawan memandang kekuasaan sebagai amanah untuk melayani.
Politikus yang berintegritas juga dapat memiliki semangat yang sama, ketika mereka menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan lainnya.
Rakyat memiliki harapan sederhana: pemimpin yang bekerja dengan tulus, menjaga kepercayaan, dan menjalankan tanggung jawabnya dengan integritas.
Karena pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh sistemnya, tetapi oleh kualitas pengabdian para pemimpinnya.
Bangsa yang kuat lahir dari kepemimpinan yang berorientasi pada pengabdian, bukan sekadar pada kekuasaan.


















