banner 728x250

PANCASILA DAN ETIKA KETIMURAN: DI MANA WAJAHNYA DI TENGAH PERDEBATAN PUBLIK YANG BRUTAL?

banner 120x600
banner 468x60

PANCASILA DAN ETIKA KETIMURAN: DI MANA WAJAHNYA DI TENGAH PERDEBATAN PUBLIK YANG BRUTAL?

DI TENGAH, hiruk-pikuk jagat media sosial dan layar kaca, masyarakat Indonesia disuguhi tontonan yang memprihatinkan: perdebatan publik antar tokoh atau orang yang disebut “intelek” yang justru memperlihatkan wajah brutal, saling hina, saling serang, bahkan saling tantang secara terbuka. Ironisnya, isu yang diperdebatkan pun bukan tentang masa depan rakyat, melainkan soal dugaan ijazah palsu dan serangan-serangan personal.

Bukankah mereka orang-orang hebat? Bergelar akademik tinggi, berbicara atas nama moral, hukum, dan kepentingan rakyat. Namun, mengapa gaya debatnya justru memalukan? Di mana etika? Di mana nilai ke-Indonesiaan kita yang katanya mengakar kuat pada adat ketimuran dan Pancasila?

banner 325x300

𝙀𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙆𝙚𝙩𝙞𝙢𝙪𝙧𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙏𝙚𝙧𝙡𝙪𝙥𝙖𝙠𝙖𝙣

Sejak kecil kita diajarkan untuk berbicara santun, menghormati lawan bicara, apalagi di ruang publik. Budaya Jawa mengenal prinsip “ajining diri saka lathi” — harga diri seseorang terletak pada lisannya. Tapi apa jadinya jika para tokoh malah mempertontonkan arogansi lewat suara tinggi, caci maki, dan ekspresi penuh emosi?

Etika ketimuran menuntun kita pada sikap tenang, rendah hati, dan menghindari konflik terbuka yang bisa mempermalukan orang lain. Apalagi jika perdebatan itu disaksikan jutaan rakyat yang sedang resah dengan mahalnya harga pangan, terbatasnya lapangan kerja, dan masalah hidup yang lebih nyata.

Alih-alih menenangkan, para tokoh ini justru membuat rakyat gerah, bahkan kehilangan harapan terhadap elit negeri ini.

𝙋𝙖𝙣𝙘𝙖𝙨𝙞𝙡𝙖: 𝙉𝙞𝙡𝙖𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝘿𝙞𝙝𝙖𝙛𝙖𝙡 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙏𝙖𝙠 𝘿𝙞𝙟𝙖𝙡𝙖𝙣𝙠𝙖𝙣

Mari kita tinjau peristiwa ini melalui lensa Pancasila:
Sila Kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab
Apakah saling hina dan mempermalukan di ruang publik adalah sikap beradab?
Sila Ketiga: Persatuan Indonesia Perdebatan yang memecah belah dan memicu polarisasi tentu bukan jalan menuju persatuan.
Sila Keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan Hikmat dan kebijaksanaan hilang ketika debat berubah menjadi ajang unjuk gigi, penuh ego, bukan dialog.
Sila Kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Rakyat butuh keteladanan, bukan pertunjukan. Butuh solusi, bukan sensasi.

Apakah ini sikap Pancasialis sejati? Ataukah hanya tempelan nilai yang sering dikumandangkan saat upacara, tapi ditinggalkan saat bicara soal kekuasaan?

𝙃𝙚𝙗𝙖𝙩 𝙂𝙚𝙡𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖, 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙈𝙞𝙨𝙠𝙞𝙣 𝙆𝙚𝙩𝙚𝙡𝙖𝙙𝙖𝙣𝙖𝙣

Banyak yang tampak “besar” di atas panggung, tapi sesungguhnya kecil dalam sikap. Mereka pintar, tapi tidak bijak. Mereka fasih berbicara, tapi gagal memberi contoh. Mereka teriak tentang moral, tapi justru menginjak harga diri orang lain.

Inilah penyakit elit kita hari ini: candu panggung dan haus tepuk tangan. Media dijadikan alat untuk saling telanjang, bukan saling memahami. Publik dijadikan penonton setia, tapi juga korban dari atmosfer debat yang membelah dan merendahkan.

𝙈𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙎𝙤𝙨𝙤𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙈𝙚𝙣𝙚𝙙𝙪𝙝𝙠𝙖𝙣

Rakyat kecil hanya bisa mengelus dada. Di tengah sulitnya kehidupan, ternyata tokoh-tokoh yang mestinya menjadi teladan justru lebih sibuk saling menjatuhkan. Bukankah lebih baik saling mendoakan jika ada kekeliruan? Bukankah lebih bermartabat menyampaikan kebenaran dengan lembut?

Sudah saatnya kita kembali pada jati diri bangsa: musyawarah, tenggang rasa, dan welas asih. Pancasila bukan sekadar slogan — ia harus hidup dalam ucapan dan tindakan.

Jangan sampai generasi muda belajar bahwa menjadi “orang hebat” itu cukup dengan pinter debat, menghina, menghujat, bicara lebih keras di panggung debat daripada yang lain. Salam Nalar Akal Waras. Merdeka. [Redaksi Suarakyat.com]

 

 

Disclaimer

Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi Suarakyat.com secara keseluruhan.
Suarakyat.com menjunjung tinggi kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab, sesuai dengan semangat demokrasi dan nilai-nilai Pancasila.
Segala bentuk kritik, saran, atau tanggapan atas tulisan ini dapat disampaikan melalui kolom komentar atau kontak redaksi.

Kami menghargai dialog yang santun dan membangun demi terciptanya ruang publik yang sehat dan beradab.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *