Suarakyat.com – Gotong royong adalah jiwa bangsa. Ia lahir dari kesadaran bahwa hidup tak pernah benar-benar bisa dijalani sendirian. Dari bahasa Jawa, gotong berarti memikul, royong berarti bersama.
Artinya jelas: beban seberat apa pun ketika kita angkat bersama-sama, akan terasa ringan, apalagi jika diangkat bersama, dengan ikhlas, tanpa hitung-hitungan untung rugi.
Nilai ini bukan sekadar tradisi, melainkan kepribadian bangsa Indonesia. Ia hidup dalam kerja bakti, ronda malam, membantu tetangga yang punya hajatan, hingga saling menolong saat musibah datang. Gotong royong adalah wujud nyata sila ketiga dan kelima Pancasila—persatuan dan keadilan sosial.
Namun hari ini, kita patut bertanya dengan jujur: ke mana gotong royong itu pergi?
Di tingkat paling bawah—di kampung, di RT—retaknya terasa nyata. Pemilu ke pemilu berikutnya meninggalkan bekas yang tak kunjung sembuh. Beda pilihan bukan lagi sekadar perbedaan pandangan, tapi berubah menjadi sekat sosial. Gesekan kecil dipelihara, kecurigaan dirawat, dan saling klaim kebenaran tumbuh subur di segala bidang.
Yang lebih menyakitkan, ketika seseorang didukung habis-habisan—waktu, tenaga, bahkan harga diri—namun setelah duduk di kursi kekuasaan, ia seolah lupa jalan pulang. Pendukung yang dulu dielu-elukan kini dianggap tak ada. Aspirasi yang dulu dijanjikan tinggal slogan. Gotong royong berubah menjadi cerita lama yang hanya manis saat kampanye.
Ironisnya, kemunduran ini tak hanya terjadi di dunia nyata, tapi justru semakin brutal di dunia maya. Alat komunikasi yang seharusnya mendekatkan, kini berubah menjadi alat kelamin komunikasi—dipakai untuk melampiaskan nafsu marah, dengki, dan kebencian. Saling ejek, saling serang, kata-kata umpatan yang jorok dilempar tanpa rasa malu. Semua berlindung di balik layar, seolah kehilangan nurani.
Fenomena ini makin diperparah ketika pertengkaran justru dipertontonkan oleh mereka yang disebut “ahli”. Di ruang-ruang diskusi dan layar kaca, adu gagasan berubah menjadi adu emosi. Debat menjelma pertengkaran. Logika dikalahkan ego. Yang tersisa hanya sorak pendukung dan kebencian yang diwariskan ke bawah.
Inilah wajah-wajah orang yang lupa jalan pulang. Pulang ke nilai kebersamaan. Pulang ke etika. Pulang ke kesadaran bahwa berbeda pilihan tak pernah berarti bermusuhan. Pulang ke gotong royong sebagai jati diri bangsa.
Jika jalan pulang itu benar-benar hilang, maka yang tersisa hanyalah kerumunan orang-orang yang berjalan sendiri-sendiri, saling sikut, saling jatuhkan—tanpa pernah sampai ke tujuan bersama. Dan bangsa tanpa gotong royong, hanyalah nama tanpa jiwa.


















