Suarakyat.com – Isu politik di negeri ini seolah tidak pernah kehabisan bahan. Bahkan hal yang seharusnya sederhana pun bisa berubah menjadi perdebatan panjang yang melelahkan. Salah satunya adalah polemik soal keaslian ijazah yang hingga kini terus diperdebatkan oleh kubu pro dan kontra, tanpa kejelasan akhir.
Setiap hari publik disuguhi pernyataan, bantahan, analisis, dan spekulasi. Media sosial ramai, talk show politik berisik, sementara rakyat hanya menjadi penonton pasif. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena lelah. Lelah melihat elite politik sibuk berdebat, sementara persoalan nyata rakyat justru menumpuk.
Politik yang Terlalu Banyak Drama
Dalam politik, hampir semua hal bisa dipolitisasi. Bahkan urusan pribadi pun dapat diangkat menjadi isu nasional. Namun ketika perdebatan tidak lagi berorientasi pada penyelesaian, melainkan sekadar adu opini dan pembentukan narasi, maka politik berubah menjadi drama.
Isu ijazah seharusnya tidak serumit ini. Jika dokumen tersebut memang asli, mestinya dapat ditunjukkan secara terbuka dan jelas. Transparansi adalah cara paling efektif untuk menghentikan spekulasi publik. Dengan satu langkah sederhana, polemik bisa selesai.
Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Isu ini terkesan dibiarkan berlarut-larut, seolah sengaja dipelihara sebagai komoditas politik. Pernyataan saling sindir terus bergulir, sementara substansi persoalan tak kunjung disentuh secara tuntas.
Rakyat Punya Masalah yang Lebih Nyata
Di luar ruang debat elite, rakyat menghadapi kenyataan yang jauh lebih berat. Harga kebutuhan pokok terus naik, lapangan pekerjaan semakin sempit, dan beban hidup semakin menekan. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika rakyat mempertanyakan: apa manfaat dari perdebatan panjang soal ijazah?
Bagi rakyat kecil, polemik ini tidak memberi solusi apa pun. Tidak menurunkan harga beras, tidak menciptakan lapangan kerja, dan tidak memperbaiki layanan publik. Yang ada justru menambah kejenuhan dan memperkuat kesan bahwa politik semakin jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ketika elite sibuk berdebat, kepercayaan publik justru semakin terkikis. Politik yang seharusnya menjadi alat penyelesaian masalah berubah menjadi sumber kegaduhan.
Transparansi sebagai Jalan Keluar
Sebenarnya jalan keluar dari polemik ini sangat jelas. Tunjukkan ijazah secara terbuka. Jika memang asli, maka keraguan publik akan berhenti dengan sendirinya. Setelah itu, jika ada pihak yang dianggap menyebarkan fitnah atau kebohongan—termasuk Roy Suryo dan pihak-pihak lain—barulah ditempuh jalur hukum secara tegas dan terukur.
Urutan ini penting. Transparansi terlebih dahulu, penegakan hukum kemudian. Bukan sebaliknya. Dengan cara ini, negara menunjukkan keteladanan, bukan kekuasaan semata.
Politik Seharusnya Menyelesaikan, Bukan Memelihara Kegaduhan
Rakyat tidak membutuhkan tontonan politik yang bertele-tele. Rakyat membutuhkan kepastian, kejujuran, dan kepemimpinan yang memberi contoh. Politik yang sehat adalah politik yang menyelesaikan persoalan dengan cepat dan jelas, bukan yang terus memelihara konflik demi kepentingan tertentu.
Jika polemik sederhana terus dibiarkan berlarut, jangan salahkan jika rakyat semakin apatis. Ketika kepercayaan hilang, yang runtuh bukan hanya citra individu, tetapi wibawa politik itu sendiri.
Pada akhirnya, kejujuran dan keterbukaan selalu menjadi jalan paling singkat untuk menyelesaikan kegaduhan. Rakyat sudah lelah menonton. Saatnya ykpolitik kembali bekerja untuk rakyat, bukan untuk drama.
