Renungan Pasca Gerhana Bulan – Apakah Diri Kita Masih Terjadi Gerhana

Suarakyat.com – Ketika langit malam perlahan meredup dan bulan yang biasanya bersinar terang tiba-tiba tertutup bayangan, sebagian orang terdiam. Sebagian lagi bertanya-tanya. Itulah gerhana bulan — dalam tradisi Jawa disebut grahino rembulan.

Sejak dulu, masyarakat Jawa mengenal petung dan weton. Ada Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing. Ketika gerhana bertepatan dengan weton tertentu, sebagian orang merasa perlu berhati-hati.

Ada yang menunda perjalanan, ada yang memilih diam di rumah, ada pula yang memperbanyak doa.

Pertanyaannya: apakah gerhana benar-benar membawa pertanda buruk? Alam Tidak Pernah Berniat Mencelakai umat yang ada di Bumi.

Baca juga:

Mentri Luar Negeri Rusia Sebut Tidak ada bukti Iran kembangkan nuklir Agresi AS Israel terhadap Iran

Secara ilmu pengetahuan, gerhana bulan adalah peristiwa alam ketika bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga bayangan bumi menutupi bulan. Sebuah siklus yang bisa dihitung dan diprediksi.

Dalam ajaran Islam, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk melaksanakan salat gerhana. Bukan karena gerhana adalah tanda kematian atau bencana, melainkan sebagai bentuk pengakuan bahwa alam semesta tunduk pada kehendak Allah. Gerhana bukan ancaman, tetapi pengingat kebesaran-Nya.

Weton dan Kearifan Lokal

Dalam kearifan Jawa, weton bukan sekadar hitungan hari. Ia adalah cara orang tua dahulu membaca karakter, membaca sikap, dan memberi nasihat.

Jika ada pesan agar tidak gegabah mengambil keputusan saat gerhana, Menjaga ucapan, Menghindari pertengkaran, Memperbanyak doa, maka itu bukan ramalan nasib, melainkan nasihat moral.

Bukankah dalam hidup sehari-hari pun kita memang seharusnya berhati-hati dalam bicara, bijak dalam mengambil keputusan, dan menjaga hubungan dengan sesama?

Yang Perlu Ditakuti Bukan Gerhana, Yang seharusnya kita khawatirkan bukanlah bayangan bumi yang menutup bulan beberapa jam.

Yang patut kita waspadai adalah: Gelapnya hati kita karena keserakahan, Tertutupnya nurani kita karena kepentingan, Redupnya kejujuran kita karena ambisi.

Gerhana di langit hanya sementara. Tetapi gerhana dalam hati kita bisa berlangsung lama jika diri kita tidak segera sadar, bahwa diri kita telah terjadi Gerhana.

Ketika Langit Gelap, Jangan Sampai Hati kita Ikut Padam, kita harus tetap menyala, berusaha bisa ikut menerangi yang lain.

Hari ini, kita hidup di zaman yang bukan hanya mengalami gerhana di langit, melainkan kita sedang dalam fase Gerhana di kehidupan nyata.

Kita menyaksikan Gerhana kasus isu ijasah yang tidak segera selesai, kita menyaksikan Gerhana Harga kebutuhan naik, tetapi hati sebagian pemegang kuasa justru makin kebal.

Rakyat kecil diminta sabar dalam setiap Gerhana kehidupan, sementara kemewahan dipamerkan para si kaya, tanpa rasa bersalah.

Kejujuran sering dianggap Gerhana kebodohan, dan kelicikan justru dirayakan sebagai kecerdikan. Bukankah ini gerhana yang lebih menakutkan?

Gerhana alam hanya sebentar. Tetapi gerhana keadilan bisa bertahun-tahun. Gerhana bulan tidak pernah memilih siapa yang ditutup cahayanya. Namun gerhana nurani sering sengaja diciptakan oleh manusia sendiri.

Ketika bulan redup, karena gerhana, jangan sibuk menghitung weton orang lain. Mari kita hitung ulang diri kita: Apakah diri kita masih jujur? Apakah diri kita masih peduli pada penderitaan sekitar? Apakah diri kita masih berani mengatakan yang benar, meski pelan?

Pasca Gerhana langit akan kembali terang. Bulan akan kembali utuh. Pertanyaannya dalam kita tinggal satu: Saat cahaya itu kembali, apakah diri kita hati kita masih punya cahaya yang sama?

Semoga saja Suarakyat.com — adalah suara yang tidak ikut padam ketika Bulan, Matahari, dan Langit, sedang menggelap. Salam Nalar, Akal Waras.

 

Exit mobile version