Suarakyat.com – Di negeri ini, kita sering melihat pemandangan yang tampak indah di permukaan. Tampak Terlihat berdiri kuat dalam beribadah. Namun, kita jarang melihat: di mana mereka berdiri ketika kebenaran dipermainkan?
Ada orang-orang yang dipilih oleh keadaan untuk mengetahui sebuah fakta. Mereka melihat sendiri bagaimana sebuah proses kejahatan yang seharusnya bersih ternyata berdiri di atas kepalsuan.
Nama digunakan tanpa kehadiran. Identitas dipinjam tanpa kesadaran. Sebuah transaksi tampak sah di atas kertas, tetapi kosong dalam kenyataan.
Dalam satu peristiwa mereka tahu. Mereka melihat. Mereka memahami. Mereka berinteraksi, Tetapi mereka memilih tidak bergerak. Mereka tidak berdiri untuk membela kebenaran itu sepenuhnya.
Baca juga:
Ketika Harapan Dijadikan Dagangan: Jangan Biarkan Anak Bangsa Terjebak CPNS Bodong
Mereka tidak membuka fakta demi keadilan bersama. Mereka memilih jalan yang lebih aman. Mereka mendatangi pihak yang terlibat, bukan untuk menegakkan kebenaran, tetapi untuk menyelamatkan diri sendiri.
Kebenaran pun berubah fungsi. Ia tidak lagi menjadi amanah. Ia menjadi alat tawar. “Asal kerugian kami dikembalikan, semuanya bisa selesai.”
Kalimat seperti ini mungkin tidak terdengar di mimbar-mimbar. Tetapi ia hidup dalam praktik. Ia berbisik di balik pintu. Ia menjadi kompromi antara hati nurani dan kepentingan pribadi.
Padahal dalam Qur’an, Allah memperingatkan dengan tegas agar manusia tidak menyembunyikan kebenaran. Karena kebenaran bukan milik manusia. Kebenaran adalah milik Allah. Dan manusia hanya dititipi untuk menjaganya.
Ironisnya, semua itu dilakukan oleh orang yang terlihat ibadahnya kuat dengan kata lain Mereka tidak meninggalkan sholat. Mereka tidak menunda sholat. Mereka tetap sujud tepat waktu.
Tetapi sayang sekali sujud nya tidak mampu mengalahkan rasa takut kehilangan keuntungan pribadi, Sujudnya tidak mampu mengalahkan keinginan untuk kepentingan pribadi
Padahal beribadah bukan sekadar kewajiban ritual. Beribadah adalah pendidikan jiwa. Beribadah seharusnya melahirkan manusia yang takut kepada Allah, bukan takut kehilangan kepentingan dunia.
Baca juga:
FAKTA: ORANG SERING MEMILIH MENCARI JALAN KELUAR, DARI PADA MENCARI JALAN KE DALAM
Rasulullah mengingatkan bahwa akan datang orang-orang yang rajin beribadah, tetapi lalai terhadap keadilan.
Mereka menjaga hubungan dengan Allah secara lahiriah, tetapi mengabaikan amanah terhadap sesama manusia. Inilah tragedi moral yang sebenarnya.
Ketika agama dipelihara sebagai ritual, tetapi ditinggalkan sebagai prinsip. Ketika ibadah dijaga waktunya, tetapi kebenaran ditunda demi keuntungan pribadi. Ketika sujud menjadi rutinitas, tetapi keadilan menjadi pilihan.
Yang lebih menyedihkan lagi, kejahatan tidak selalu bertahan karena kekuatan pelakunya. Ia sering bertahan karena diamnya orang-orang yang mengetahui kebenaran, tetapi memilih untuk diam dan tidak sepenuhnya membelanya.
Bukan karena mereka tidak tahu. Tetapi karena mereka sudah cukup puas ketika dirinya sendiri di untungkan dari satu tindak kejahatan itu.
Di situlah keadilan mulai runtuh. Bukan di tangan pelaku, tetapi di hati orang-orang yang memilih diam setelah kepentingannya terasa aman.
Sebab iman bukan hanya tentang seberapa cepat seseorang datang ketika adzan memanggil. Tetapi Iman juga tentang di mana seseorang berdiri kuat ketika kebenaran memanggil.
Dan kelak, yang akan ditanya bukan hanya berapa kali seseorang bersujud, tetapi juga: apakah sujud itu melahirkan keberanian untuk berkata jujur, atau hanya menjadi pelindung bagi rasa takut kehilangan dunia. Salam Waras.


















