80 Tahun Indonesia, Saatnya Berhenti Berdebat, Mulai Berbenah”
Oleh: Muhammad Sarman|Redaktur Suarakyat.com
INDONESIA, memasuki usia 80 tahun. Usia yang, jika diibaratkan manusia, sudah sangat matang. Seharusnya, kita bisa duduk dengan penuh wibawa, menatap masa depan dengan langkah yang pasti. Namun kenyataannya, di tengah kematangan usia ini, kita justru masih tersandung di persoalan yang sama: isu ijazah yang dipertentangkan, hukum yang diperdebatkan, kekuasaan yang diperebutkan, dan para ahli yang saling menegakkan pendapatnya masing-masing.
Padahal, semakin kita sibuk mempertahankan ego, semakin jauh kita dari tujuan bernegara yang sesungguhnya: menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Belum lama ini di Kabupaten Pati, publik disuguhi pemandangan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Seorang bupati terlibat adu mulut di area terbuka, saling dorong, dan saling bentak dengan suara keras. Semua disaksikan masyarakat luas. Pemandangan seperti ini tidak hanya memalukan, tetapi juga mencederai martabat jabatan yang diemban. Pemimpin seharusnya menjadi teladan kesabaran, bukan contoh pertengkaran.
Semakin miris, belum lagi terungkapnya sebuah putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, tetapi hingga hari ini belum dieksekusi. Ironisnya, pihak yang seharusnya menjalani hukuman itu justru masih menduduki jabatan terhormat sebagai komisaris di salah satu instansi. Fakta seperti ini meruntuhkan rasa keadilan di hati rakyat, seakan hukum hanya tegas kepada yang lemah, tetapi tumpul ketika berhadapan dengan yang kuat.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan: “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.”
(QS. Al-Anfal: 46)
Perbedaan pendapat itu adalah rahmat, tetapi jika berubah menjadi perdebatan adu kepintaran, akhirnya pertikaian tanpa solusi, itu justru menjadi racun bagi bangsa. Rasulullah pun mengajarkan adab dalam berselisih: mencari titik temu, bukan memperlebar, memperbesar perdebatan adu hebat.
Indonesia tidak kekurangan orang hebat, orang pintar. Kita punya akademisi, ulama, praktisi, pemimpin, dan tokoh-tokoh besar lainnya. Yang di butuhkan rakyat sekarang bukan lagi adu argumentasi, keras kerasan bersuara yang tanpa ujung, melainkan yang dibutuhkan adu kontribusi untuk negeri dan untuk perbaikan.
80 tahun sudah Bangsa Indonesia merdeka, Apakah kita akan terus menghabiskan waktu untuk membuktikan siapa yang paling hebat paling benar, paling berani, atau kita mau memulai bekerja sama demi membuktikan bahwa bangsa ini memang bisa maju?
Mari, para orang-orang hebat di negeri ini, bersedia berhenti debat yang hanya memanaskan telinga, tanpa memberi solusi, budayakan Malu, Jadilah teladan untuk generasi muda dalam hal menghormati perbedaan, mencari jalan keluar, dan memulai pembenahan dari diri sendiri.
Karena kemajuan Indonesia tidak akan datang dari siapa yang paling keras ran lantang suaranya, tetapi dari siapa yang paling tulus hatinya dalam mengabdi. Salam Nalar, Akal Waras. Selamat memperingati kemerdekaan Bangsa Indonesia yang ke 80 tahun. Merdeka…!!!
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis yang disampaikan untuk tujuan edukasi, refleksi, dan mengajak pembaca melakukan perbaikan bersama demi kemajuan bangsa. Setiap contoh peristiwa atau kejadian yang disebutkan bersumber dari pemberitaan yang telah beredar di ruang publik. Apabila terdapat perbedaan persepsi atau interpretasi, hal tersebut bukan dimaksudkan untuk menyerang kehormatan pihak tertentu, melainkan sebagai bahan introspeksi dan pembelajaran bersama.


















