Tidak semua orang yang banyak bicara tentang masa lalunya itu sedang berkhayal. Tidak semua orang yang sering menyebut rencana besar itu sedang melantur. Dan tidak semua orang yang jatuh secara ekonomi lalu rajin berargumentasi bisa serta-merta disebut sudah “GILA”. Jawabnya “TIDAK.”
Di tengah kehidupan sosial kita, sering kita jumpai sosok orang yang sedang terpuruk secara ekonomi, dihantam berbagai masalah hidup, namun tetap aktif berbicara—tentang perjalanan kariernya, itu luar biasa.
Ia berbicara Tentang teman-temannya yang kini sukses, ia bicara tentang kegagalan yang menurutnya tidak berdiri sendiri. Dan Ia pandai berargumentasi, punya logika, dan sering merencanakan kebangkitan.
Namun ironisnya, orang di sekitarnya justru memandangnya dengan sinis. Ada yang mengatakan ia melampiaskan KEGAGALAN, ada yang menyebutnya sudah TIDAK WARAS, bahkan ada yang menganggapnya sekadar “OMONG KOSONG”.
Lalu sebenarnya, apa yang sedang dialami orang seperti ini?
Jatuh Bukan Sekadar Soal Uang Kejatuhan ekonomi tidak hanya berdampak pada isi dompet. Ia sering kali menyeret jatuh identitas, harga diri, dan makna hidup.
Bagi orang yang sebelumnya pernah: punya jabatan, punya jaringan, atau pernah “DI ANGGAP SUKSES, saat ini kehilangan semua, hal seperti itu terasa seperti kehilangan diri sendiri.
Di titik inilah seseorang sedang memasuki apa yang disebut “KRISIS IDENTITAS”. Ia sering bertanya dalam diambya: “SIAPA SAYA SEKARANG, DAN APAKAH SAYA MASIH BERARTI ?”
Bicara Masa Lalu itu adalah sebagai Upaya untuk Bertahan Ketika seseorang sering berbicara tentang: perjalanan kariernya, tentang teman-temannya yang berhasil, bicara tentang peran yang pernah ia miliki. Itu bukan pamer, itu melainkan cara mempertahankan martabat.
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai mekanisme pertahanan diri—reaksi alamiah ketika batin tertekan. Bukan kebohongan, melainkan upaya agar dirinya tidak runtuh sepenuhnya.
Menyalahkan Lingkungan: Salah atau Manusiawi? Ketika kegagalan terjadi, tidak semua orang siap berkata, “INI SEMUA ADALAH SALAH SAYA” Sebagian orang menempuh jalan rasionalisasi dan proyeksi: Menjelaskan kegagalan dengan peran lingkungan, sistem, atau bahkan teman.
Ini bukan tanda kelainan jiwa. Ini tanda bahwa luka batin belum selesai diproses. Ketika Kecerdasan Disalahpahami, Orang yang pandai berbicara dan kuat berargumentasi sering kali justru: lebih mudah disalahpahami, lebih cepat dicap “ANEH” lebih rentan dianggap tidak realistis.
Padahal, selama logikanya masih utuh, komunikasinya nyambung, dan tidak ada perilaku membahayakan, ia tidak sedang mengalami gangguan jiwa berat.
Yang ia alami lebih tepat disebut: Krisis eksistensial, Ia tampak aktif, tapi jiwanya lelah, Capai, Ia banyak bicara, tapi sesungguhnya sedang mencari pijakan atau pegangan untuk bangkit.
Antara Bangkit dan Berdamai
Merencanakan kebangkitan adalah hal wajar. Namun tanpa penerimaan terhadap realitas saat ini, rencana sering hanya berhenti di kata-kata.
Yang dibutuhkan orang seperti ini bukan ejekan, melainkan: Ruang untuk didengar, Ruang pengakuan bahwa ia pernah berarti, dan berjaya.
dan ia butuh waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
Jangan Cepat Menyebut “GILA”
Dalam masyarakat yang keras, orang yang jatuh sering ditertawakan. Padahal, bisa jadi ia bukan lemah—melainkan terluka. Ia bukan gila, Ia hanya sedang berjuang menyelamatkan jati diri di tengah reruntuhan hidup.
Cobalah refleksi diri, barangkali, kita mengalami hal yang sama atau berada di posisinya, mungkin kita pun akan melakukan hal yang sama, dan belum tentu kuat. Salam Nalar Akal Waras.
