Kisah Hidup dari Jalanan Keras Bayu Eko Purnomo, meski redup—belum sepenuhnya padam.
Nama Bayu Eko Purnomo bukan nama asing bagi sebagian warga Boyolali. Ia lahir dan besar di Jl. Kates No. 72, dari keluarga sederhana, putra dari Pak Poenjul cucu Mbah Jaeno—seorang sosok yang pada masanya dikenal luas di Boyolali.
Dari rahim keluarga inilah Bayu tumbuh, menapaki hidup dengan cara yang tidak biasa, keras, penuh tikungan, dan sarat dengan pelajaran pahit.
Sejak kecil, Bayu mengaku sudah akrab dengan kehidupan jalanan. Ia sendiri tak menutup-nutupi masa lalunya. Di bangku sekolah dasar, ia dikenal nakal, sering bolos, dan sulit diatur. Bahkan pada usia yang masih sangat belia, ia sudah mengenal dunia gelap peredaran SDSB—sebuah kenyataan pahit yang menggambarkan betapa rapuhnya lingkungan sosial saat itu.
Memasuki SMP, kebiasaan bolos tak juga berubah. Pendidikan formal seolah tak pernah benar-benar memeluknya. Ia bahkan tidak naik kelas. Di SMA, cerita serupa terulang. Bayu kembali mangkir, kembali gagal naik kelas. Sekolah baginya bukan tempat menemukan harapan, melainkan catatan panjang tentang kegagalan dan stigma.
Namun justru dari kegagalan itu, Bayu mulai membangun jalan hidupnya sendiri. Setelah lulus SMA, ia meninggalkan Boyolali menuju Surabaya. Di kota besar itu, Bayu terjun ke dunia hiburan dan mengaku bekerja sebagai event organizer (EO). Dunia yang gemerlap, penuh pergaulan, dan keras, memberinya pengalaman baru—tetapi belum memberi kepuasan.
Merasa belum menemukan takdirnya, Bayu melangkah lebih jauh ke Ibu Kota Jakarta. Ia kembali menekuni dunia EO, berhadapan dengan persaingan, intrik, dan kerasnya hidup metropolitan. Namun Jakarta tak selalu ramah. Harapan yang dibawa dari Boyolali kembali diuji. Bayu akhirnya pulang kampung.
Sekembalinya ke Boyolali, Bayu memasuki dunia yang benar-benar berbeda: pertambangan galian C. Di sinilah, menurut pengakuannya, ia mengenal dunia yang paling keras dalam hidupnya. Dunia penuh kepentingan, hitung-hitungan, dan permainan kuasa. Bayu mengaku sempat berjaya. Uang miliaran rupiah pernah singgah di tangannya. Ia merasa berada di puncak.
Namun hidup, seperti yang ia alami berkali-kali, tak pernah berjalan lurus. Kepintaran yang ia miliki—yang seharusnya menjadi kekuatan—justru menjadi celah. Bayu mengaku banyak rekan dan mitra kerja yang memanfaatkan kecerdasannya. Ia dipuji saat dibutuhkan, ditinggalkan saat situasi berubah.
Puncak kejatuhan itu terjadi ketika rumah tempat ia dilahirkan harus dieksekusi akibat utang gagal bayar. Dari seorang yang pernah memegang miliaran, Bayu terpuruk tak memiliki apa-apa. Harta habis, jaringan runtuh, dan kepercayaan manusia di sekitarnya menguap.
Yang lebih menyakitkan, menurut pengakuannya, adalah cap sosial yang kini ia terima. Orang-orang yang dulu pernah ia bantu, kini justru menyebutnya gila.
Sebuah label yang bagi Bayu lebih menyakitkan daripada kehilangan harta. Ia merasa dilupakan, diasingkan, dan dihakimi oleh lingkaran yang pernah ia besarkan sendiri.
Namun Bayu menegaskan, kisah hidupnya belum berakhir. Luka-luka masa lalu belum sepenuhnya sembuh, tetapi ia ingin ceritanya didengar. Bukan untuk mencari simpati, melainkan sebagai cermin kerasnya kehidupan—bahwa seseorang bisa jatuh sangat dalam, bukan hanya karena kesalahan sendiri, tetapi juga karena sistem, lingkungan, dan manusia di sekitarnya.
Kisah Bayu Eko Purnomo adalah potret tentang anak jalanan yang tumbuh tanpa pegangan, tentang keberhasilan yang rapuh, dan tentang kejatuhan yang sunyi. Sebuah kisah nyata dari Boyolali, tentang hidup yang tidak hitam-putih, dan tentang harapan yang—meski redup—belum sepenuhnya padam.
