banner 728x250

Robbi Zidni ‘Ilman Naafi’an Warzuqni Fahma.

Gambar ilustrasi kahanan jaman yang penuh retorika politik. Foto. Istimewa
banner 120x600
banner 468x60

Suarakyat.com – Robbi Zidni ‘Ilman Naafi’an Warzuqni Fahma, Ya Tuhan, tambahkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat dan karuniakanlah kepadaku pemahaman.

Doa ini memang terdengar sangat sederhana, tetapi mengandung pesan yang amat sangat dalam bagi kehidupan manusia.

banner 325x300

Dalam tradisi keilmuan Islam, doa ini sering dipanjatkan oleh para pencari ilmu agar pengetahuan yang diperolehnya tidak sekadar menambah kecerdasan, tetapi juga menghadirkan manfaat dan kebijaksanaan.

Di tengah hiruk pokoknya kehidupan di jaman modern yang dipenuhi arus informasi tanpa henti, makna doa ini terasa semakin relevan.

Kita hidup pada zaman ketika berita datang dari segala arah, perdebatan muncul setiap saat, dan opini bertebaran tanpa batas.

Namun ironisnya, di tengah ramainya banjir informasi tersebut, kejujuran dan kejernihan berpikir justru seringkali sulit ditemukan.

Belakangan ini masyarakat disuguhi tontonan polemik panjang mengenai isu ijazah yang ramai diperbincangkan di ruang publik.

Isu tersebut menjadi bahan perdebatan di berbagai media, mulai dari televisi hingga media sosial. Ada yang membela msti matian dengan penuh keyakinan, ada pula yang menyerang dengan kritik keras.

Di antara dua arus itu, rakyat kecil justru seringkali menjadi penonton dalam kebingungan. Banyak orang akhirnya bertanya-tanya: mana yang benar-benar fakta, mana yang sekadar opini politik, dan mana yang hanya menjadi bagian dari pertarungan kepentingan.

Situasi ini menunjukkan bahwa bangsa kita tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga membutuhkan pemahaman yang jernih.

Tanpa pemahaman, ilmu yang dimiliki manusia dapat berubah menjadi alat untuk memperkeruh suasana. Karena kejujuran orang mudah mengorbankan demi kepentingan.

Yang lebih memprihatinkan, polemik yang terus diperdebatkan itu muncul pada saat yang sama, bahwa saudara-saudara kita di Sumatra, dan di daerah lain sedang berjuang menghadapi bencana banjir dan tanah longsor.

Di beberapa daerah, rumah-rumah terendam air, jalan terputus, dan aktivitas masyarakat lumpuh. Ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal, ada pula yang harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan orang-orang tercinta.

Bagi mereka yang sedang tertimpa musibah, yang paling dibutuhkan bukanlah perdebatan politik, melainkan perhatian dan empati, dari negara.

Namun dalam kenyataan yang sering kita lihat, di ruang publik justru dipenuhi oleh kebisingan retorika politik. Sebagian sibuk memuja tokoh, sebagian lagi sibuk menghujat.

Energi rakyat di negeri ini habis terkuras untuk perdebatan yang sering kali tidak membawa solusi nyata bagi persoalan rakyat.

Di sinilah makna doa “Robbi zidni ‘ilman naafi’an warzuqni fahma” menjadi sangat penting untuk direnungkan kembali.

Doa ini mengajarkan bahwa ilmu yang benar bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga harus membawa manfaat bagi kehidupan.

Ilmu yang bermanfaat akan menuntun manusia untuk melihat persoalan secara proporsional. Ia membantu seseorang memahami mana yang benar-benar penting dan mana yang hanya menjadi kegaduhan sementara.

Pemahaman juga membuat seseorang tidak mudah terseret arus emosi. Ia tidak tergesa-gesa dalam menilai, tidak mudah terpancing oleh provokasi, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling memusuhi.

Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap seperti ini sangat dibutuhkan. Sebab sebuah bangsa yang besar tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau tingginya pendidikan, tetapi juga oleh kedewasaan dalam berpikir dan bersikap.

Bangsa ini sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Universitas semakin banyak, gelar akademik semakin tinggi, dan akses terhadap informasi semakin luas.

Namun di jaman yang serba modern ini ysng sering dirasakan adalah kekurangan kebijaksanaan dalam menggunakan ilmu pengetahuannya itu.

Ilmu yang tidak disertai pemahaman dapat berubah menjadi alat propaganda. Ia bisa digunakan untuk membangun citra, memanipulasi opini, atau memperbesar konflik yang sebenarnya tidak perlu.

Sebaliknya, ilmu yang disertai pemahaman akan melahirkan sikap bijaksana. Ia membuat seseorang lebih peka terhadap penderitaan orang lain, lebih peduli terhadap kondisi masyarakat, dan lebih mampu menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan sempit.

Mungkin inilah saatnya kita kembali mengingat makna doa sederhana itu. Di tengah hiruk-pikuk perdebatan dan derasnya arus informasi, kita perlu memohon agar diberi ilmu yang benar-benar bermanfaat dan pemahaman yang jernih.

Sebab pada akhirnya, ilmu yang paling berharga bukanlah yang membuat seseorang tampak paling benar dalam perdebatan, melainkan ilmu yang mampu menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.

Ketika saudara-saudara kita sedang berjuang menghadapi bencana, empati seharusnya lebih keras suaranya daripada retorika politik, memuja tokoh berlebihan.

Dan mungkin di situlah letak makna terdalam dari doa itu: agar ilmu menjadikan manusia lebih bijak, lebih peduli, dan lebih mampu menempatkan kemanusiaan di atas segala kebisingan.

banner 325x300
Penulis: Muhamad Sarman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *